Jumat, 12 Maret 2021

Ilalang di Pekarangan Rumah Ibu


(Finalis Lomba Cerita Pendek Guru Menulis, terbit dalam Kumpulan Cerpen Guru “Ilalang di Pekarangan Rumah Ibu, diterbitkan oleh Lingkar Antar Nusa, Oktober 2015)



Aku berhenti di depan rumah sebelum membuka gerbang kecilnya yang terkunci dari dalam. Dinding rumah ini masih berwarna hijau pupus, warna kesukaan Ibu, pagar besinya mulai berkarat di sana-sini, plafon yang mulai menghitam seakan menemani kesepian yang ada di dalamnya.

Rumput jepang yang dulu tersebar di pekarangan depan rumah ini telah berganti ilalang. dan ilalang itu menari-nari bagai memberi kabar tentang kenangan yang merapuh bersama Ibu. Hijau ilalang tak dapat menghijaukan atmosfer rumah Ibu yang melapuk perlahan-lahan.

Pun deretan anggrek bulan yang berada tepat di bawah jendela kamar Ibu, kering tak bernafas. Tanaman hias kesukaan Ibu, aglaonema atau sri rejeki, telah hilang bersama keringnya masa lalu, hanya sisa pot dan tanah tertinggal di sana. Koleksi anturium berwarna oranye di pojok garasi berubah menjadi coklat sempurna, tak berdaya. 

Hanya pohon jambu air yang masih berdiri kokoh menyimpan cerita kanak-kanak yang lugu. Namun pot-pot bunga mawar telah ditumbuhi tanaman perdu yang masih kecil, warna pintu utama memudar perlahan bersama angin yang menghembuskan sisa-sisa kisah masa lalu yang berganti di setiap masanya. Pohon belimbing di samping kiri rumah tempat di mana kami biasa membuat tenda ketika malam minggu tiba telah menghilang, hanya ada sisa batang kayu coklatnya yang lapuk.

Tanaman obat koleksi Ibu pun mulai melayu dan kelabu. Jejeran tanaman bougenvile di depan garasi yang dulu mekar dan setia menemani hari-hari Ibu saat pagi datang juga sudah mengering, lantai garasi sudah koyak oleh debu dan sinar matahari, kanopi garasi yang berwarna hitam semakin menghitam dan muram, beberapa langit-langitnya hilang tak berbekas, pintu penghubung garasi dan dapur mengelupas tuntas.

Sepuluh tahun meninggalkan kota kelahiranku ini bukan waktu yang cukup singkat, meski jalan hidupku pun tidak sederhana. Dan waktu sepuluh tahun pun tidak mampu meninggalkan kisah masa kecil yang tak pernah punah dalam ingatan. Sepuluh tahun atau dua puluh tahun nanti, tak mampu dapat mengulang kisah yang hilang antara kami, hanya rekaman waktu yang menyimpan duka, luka dan manisnya kehidupan masa lalu kami.

Kota di pinggiran ibukota yang mulai bergelimang gedung mewah pencakar langit serta penduduk yang beranjak konsumtif ini, memanggilku kembali untuk sejenak bertegur sapa dengan orang-orang yang dulu menghangatkan hatiku. Bersembunyi dari masa lalu memang bukan jalan pintas yang layak dikenang. Episode kehidupan yang sempat terlupa di antara kami juga tak mampu dibangun kembali.

Aku rindu Ibu.

Ibu yang telah kutinggalkan selama sepuluh tahun lalu.

Apa kabar ibu?

Masihkah kau mengingat anakmu?

Aku rindu cerita masa lalu tentang bintang, bulan, pohon pepaya yang akhirnya ditebang karena terkena wabah ulat bulu, tentang sekolah, tentang cita-cita, tentang mimpimu, tentang doa-doa yang kau panjatkan setiap tengah malam, juga tentang pertengkaran kita.

Masihkah Ibu ingat ketika malam tiba? Ibu selalu berkisah tentang tokoh Panakawan dalam pewayangan. Ceritamu setiap malam selalu berawal dengan goro-goro yang melanda negeri, persoalan kekuasaan dan ketamakan akan kehidupan selalu menjadi tema besarmu, untuk kemudian sang Panakawan akan muncul sebagai hakim yang akan mengingatkan tentang tabir kesalahan dan kebenaran, yang salah akan terlihat salah dan yang benar akan terlihat benar.

Di akhir cerita, Ibu selalu menyelipkan satu atau dua pepatah dari dua belas falsafah Jawa yang Ibu anut dan lestarikan.

“Ingat Nduk, aja adigang, adigung, adiguna, janganlah sok hebat, sok kuasa, sok besar, sok kaya, atau pun sok sakti dan pintar” begitu pesannya.

“Ngluruk tanpa bala, menang tanpa nggasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha”

 “Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan, keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi” uraiku, Ibu pun tersenyum bangga melihat aku memahami pesannya.

Aku ingat Bu, cacatan yang kau torehkan dalam buku ingatanku begitu sempurna dan utuh.

Sejarah selalu berkisah tentang kehidupannya sendiri. Pun tentang pertentangan pemikiran yang aku miliki. Ibu dengan pemikiran lamanya dan aku dengan pemikiran bebasku.

Ibu yang menitipkan pesan-pesan kehidupan dari dongeng yang ia tuturkan setiap malam ternyata belum mampu menjadikannya wanita mandiri. Ibu yang kucintai masih terkungkung dalam adat budaya yang menghamba pada kekuasaan laki-laki. Perempuan sebagai konco wingking masih melekat dalam darah Ibu yang tidak dapat ditafsir ulang, bahwa perempuan harus masuk dapur dan berjibaku dengan remeh temeh tugas rumah tangga, bahwa laki-laki yang berhak menentukan keputusan dan bahwa kekuasaan penuh terhadap perempuan ada di tangan laki-laki.

Ibu hidup dalam kultur Jawa yang tidak memberi tempat bagi kesejajaran antara laki-laki dan perempuan. Menurut Ibu perempuan Jawa diharapkan dapat menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada kekuasaan laki-laki.

“Swarga nunut, neraka katut, perempuan itu diharapkan menjadi orang yang bersikap lembut, rela menderita, dan setia. Kami diharapkan dapat menerima segala sesuatu bahkan sepahit apapun.” begitu  titahnya.

“Kodrat perempuan itu ya...ngurus anak...ngurus suami...ndak usah sibuk sama urusan yang di luar rumah tanggamu...keutamaan seorang perempuan itu ya manak, macak, masak, mapak, dan manut.”

Melahirkan, bersolek, memasak, menunggu suami pulang kerja, mematuhi aturan suami. 

Saat itu, aku tak ingin menentangnya pun tak ingin mengamininya. Kami memiliki pemikiran yang berbeda dan perbedaan itu sangat tajam. Pertentangan demi pertentangan mulai muncul. Pemahaman kami tentang perempuan seperti dinding jurang yang membelah sungai, Ibu di seberang sana dan aku di seberang sini.

Ia Ibuku, Ibu yang merawat benih cinta dalam rahimnya, meski semakin hari perbedaan pemikiran kami semakin curam. Tak ada jalan yang dapat menjembatani kami, tak ada yang ingin mengalah dan saling memahami.

Aku hidup dalam dunia yang penuh hingar bingar pembebasan pemikiran, aku tumbuh dalam pergeseran kedudukan dan relasi gender. Pemikiran modernisasi, emansipasi perempuan, dan pengaruh budaya Barat telah menggeser pola pikirku tentang relasi gender dan mengajariku tentang persamaan derajat dan kedudukan perempuan. 

Maafkan aku Ibu.

Dan aku pergi untuk menepi sejenak dari kekuasaan sepi. Kuhanya ingin Ibu tahu bahwa aku perempuan yang hidup dalam hiruk pikuk pemikiran yang bebas, bukan lagi perempuan yang patuh pada masa lalu yang membenamkan diri dengan adat yang tidak lagi layak untuk dikeramatkan.

Kemudian rumah ini menjadi penuh senyap, tak bernafas pun tak berdetak, bagai lembah anai yang tak beriak.

Aku dan Ibu adalah sebuah kisah yang tak tuntas.

***

Perlahan aku melangkah memasuki rumah, kurasakan desiran angin sore yang dingin. Aku melangkah menuju kamar Ibu, kubuka pintu kamarnya dan kulihat Ibu duduk sendirian di sana, di depan jendela, memandang keluar jendela. Senja di luar menunggu malam, sebuah senja dan kesedihan yang tak berufuk. Kekuasaan Ibu akan rumah ini telah runtuh bersama dengan kekuatan takdir. Kekuasaan itu memang tidak pernah menjadi majikan yang baik bagi siapapun. 

Ibu menoleh ke arahku. Aku tersenyum dan ia pun menyambut senyumku, mata kami saling melepas rindu yang telah berakar. 

“Eyang....”

Sapaan lembut membangunkanku dari lamunan, kulihat wanita cantik berdiri di ambang pintu, tersenyum dan menghampiriku.

“Hari sudah malam.....Eyang minum obat dulu ya...”

Ia menyodorkan donepezil namun tak segera kusambut sodoran tangannya. Mata ranumnya mengingatkanku pada seseorang.

Ibu?

“Kamu siapa?” tanyaku curiga, setengah galak.

“Aku Ariana, cucu Eyang Putri, anak Mama Donna...” jawabnya halus.

Aku masih menatapnya curiga, namun mata itu...

“Kita sedang berada di rumah Eyang Uyut, di rumah lama Eyang Putri...Eyang baru saja tiba...kita akan tinggal di sini selama seminggu...Eyang kangen rumah kan?” 

Penjelasannya tetap tidak mampu aku cerna. Ariana? Donna? Rumah? Eyang? Ahh...

“Ibu...” hanya itu yang keluar dari mulutku yang bergetar, aku memegang tangan halus gadis itu dengan erat, ada kerinduan yang tak selesai. Senja menutup ilalang dari kejauhan. Ilalang itu telah menggantikan aku untuk menemani Ibu sepanjang waktu. Di kejauhan kurasakan mereka pamit sejenak untuk melebur bersama senja yang menghitam.

Dan Ariana pun maklum dengan apa yang sedang terjadi, Alzheimer telah mengoyak ingatannya menuju kerapuhan, batin Ariana. 


Bekasi, Agustus 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar