Sabtu, 27 Februari 2021

Perempuan Terakhir

 PEREMPUAN TERAKHIR

(15 Finalis Lomba menulis cerita pendek, terbit dalam Perempuan Dalam Cerita diterbitkan oleh Nulisbuku.com tahun 2013)

Tempat ini masih merah. Merah dan emas. Warna yang selalu bersatu memanggil jemaat untuk datang. Jendela-jendela persegi yang penuh dengan ukiran bermotif binatang dan bunga teratai, bunga yang  melambangkan kesucian. Pintu dan langit-langit serta tiang penyangga yang dipenuhi ukiran-ukiran indah serta kaligrafi. Wangi yong tswa yang menyeruak menyambut setiap jemaat yang tiba. Wajah-wajah ceria yang selalu mengingatkanku tentang kebajikan, kerendahan hati, ketulusan, kesederhanaan sekaligus kesepian.
Hari besar itu akan segera tiba. Tempat ini selalu berhias lebih megah dari tahun-tahun sebelumnya. Ribuan jemaat akan hadir di tempat ini untuk khusyuk mendoakan para leluhur. Mereka membakar dupa dan bersembahyang dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Meski aroma dupa yang tercium akan membawa kenangan hitam yang menggulung bagiku. 
Aku memandang berkeliling dan mendapati tiga buah Arca Tri Budha, Arca Arahat, dan Arca Dewa Wi To Pho Sat yang tersebar di beberapa sudut tempat ini. Kim Tek Ie mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme tetapi lebih mementingkan kebajikan antar manusia. Begitu dalam pesan yang tertoreh pada kata itu, begitu sederhana kalimat yang digunakan, namun tidak banyak manusia yang melakukannya.
Aku melakukan ritual sederhana yang masih aku ingat, sembahyang untuk Tian di altar luar sebelum masuk dan beribadah untuk para nabi dan arwah leluhur yang suci di altar dalam, kemudian beranjak perlahan mendekati pintu utama yang didominasi warna merah menyala.
Aku beringsut ke dalam dan menyalakan lilin di altar. Ritual ini biasa aku lakukan sejak aku masih hidup di dunia nyata, dunia yang penuh suka cita, kegembiraan, wewangian, penuh canda tawa dan kebebasan. Seandainya aku mampu menghitungnya, aku yakin hari-hari itu hanya beberapa minggu ke belakang.
Aku melanjutkan ritual yahng telah diajarkan dan dilakukan Nabi Kongzi berabad-abad sebelum kepedihan abadi itu datang, yang mengajarkan prosesi peribadatan serta makna dibalik prosesi ritual yang  kemudian diturunkan pada leluhurku, orangtuaku dan aku.
Aku membakar hio sebanyak 3 batang saja yang melambangkan Tuhan, Manusia dan Bumi. Kemudian aku menaikkan hio itu ke dahi sebanyak 3 kali dan berdoa untuk kehadiran Tian yang Maha Esa ditempat yang Maha Tinggi, kehadapan Nabi Konghucu, pembimbing dan penyadar hidup dan kehadapan para suci dan leluhur.
Aku meletakkan hio di Youlu yang terbuat dari besi kuningan dan berbentuk hati.Hio pertama aku letakkan di tengah, yang kedua aku letakkan di sebelah kanan, dan yang terakhir aku letakkan disebelah kiri. Aku selalu suka wangi hio karena mengeluarkan asap yang berbau sedap atau harum, dan teringat makna yang selalu mengiringinya ‘Jalan suci itu berasal dari kesatuan hatiku dan hatiku dibawa melalui keharuman dupa’.
Kemudian aku berdo’a dengan sikap Pat Tik, tangan kanan dikepalkan lalu ditutup dengan tangan kiri. Aku masih ingat makna sikap ini, ‘Aku selalu ingat bahwa dengan perantara ayah bunda, Tian telah berkenan menjadikan aku manusia, maka manusia wajib melakukan delapan kebajikan’.
Aku masih ingat semua ritual ini. Masih. Masih hapal doa-doa yang biasa aku lantunkan. Masih tergambar jelas Papi, Mami, kakak dan adikku berdoa bersama-sama untuk arwah leluhur. Masih terang benderang terpampang di mataku setiap kali keluargaku sembahyang atau Thian Hio tiap tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan yang selalu dipenuhi gegap gempita rasa syukur. Masih terbayang meja sembahyang yang disimpan di ruang tamu. Kami memelihara abu, membakar dupa dihadapan abu atau papan arwah leluhurku, dan juga di hadapan patung dewa yang dipuja, upacara yang biasa kami lakukan pada pagi hari dan petang. Begitupun masih juga terhampar jelas pembantaian itu di depan mataku.
Aku menutup mata dan menarik nafas dalam sambil menyebut nama Tian berulang-ulang. Begitu yang diajarkan suster kepala jika aku masih meregang membayangkan duka cita neraka itu menghampiri setiap urat nadi dan darahku. Tanganku bergetar. Gigiku bergemeretak hebat. Tiba-tiba aku ingin teriak, namun yang keluar hanya erangan sakit yang sangat dalam.
“Maya....masih kuat?”
Aku menggenggam erat tangan perempuan di sampingku.
“Mau selesai sampai di sini?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng lemah. Aku harus selesaikan. Harus.
Aku harus melakukan ritual terakhir yaitu melakukan pembakaran Kimcua di tempat yang telah disediakan. Tempat ini seperti pagoda. Aku masih ingat ajaran Mami jika membakar Kim cua yaitu logo yang ada di Kimcua jangan dibalik saat sedang dibakar, kemudian kertas itu dibiarkan terbakar secara alami, tidak boleh ditusuk atau dirusak.
Selesai.
Sebenarnya aku masih bisa menuangkan minyak di lampu lentera, supaya jalan hidupku selalu diterangi dan jika sedang mengalami kesulitan aku akan tetap ada jalan keluarnya. Aku tersenyum kecut. Jika neraka itu benar ada, berarti aku sudah berada di dalamnya. Terpanggang bara yang menggelora. Terbakar api yang menyala. Jika neraka itu benar ada, aku sedang hidup di dalamnya.
Tempat ini begitu sejuk untuk ruang batinku, meski Kwee Hoen membangunnya berabad-abad yang lalu. Abad ketika damai masih menjadi wakil Tian untuk bumi, ketika harmoni masih hidup dan dihidupi. Ketika yang hidup masih menggunakan akal sehat, karena setelah abad-abad berikutnya damai, harmoni dan akal sehat hanya sebuah kata purba yang tersimpan dalam guci terpendam tanah.
Aku melangkah ke luar.
“Maya...”
Sebuah suara lembut memanggil. Aku menoleh cepat. Siapa yang masih mengingat aku? Cepat aku bersembunyi di belakang Tina, perempuan yang menemaniku ke tempat ini. Aku rebut selendang yang dipegangnya, cepat aku tutupi mukaku.
“Maya? Maya kan?”
Perempuan setengah baya itu mendekatiku. Tina cepat menghadangnya.
“Maaf, Ibu siapa? Teman Maya?” tanya Tina.
“Jadi benar ini Maya? Sudah lama sekali Maya, kita tidak bertemu. Aku Jean, masih ingatkah? Mengapa sembunyi? Bagaimana kabar Ray?”
Aaaaaaaaaaaahhhhhhh.
Suara yang keluar dari mulutku bagai ledakan dasyat yang lama tersangkut di kerongkongan dan terbenam di perutku.
Meledak!
Aku meregang. Mataku terbelalak. Keringatku keluar tebal-tebal. Nafasku tersengal. Gemuruh di jantungku seakan terdengar. Darah di nadiku bagai muncrat ke luar. Tina dengan cepat memelukku sambil mengusir perempuan itu pergi.
“Tidak. Jangan. Sakit. Darah. Mati”
“Tidak. Jangan. Sakit. Darah. Mati”
“Tidak. Jangan. Sakit. Darah. Mati”
“Tidak. Jangan. Sakit. Darah. Mati”
Hanya itu penggalan kata tanpa arti yang mampu aku ucapkan. Tidak. Jangan. Sakit. Darah. Mati. Penggalan kata yang setiap hari aku rapalkan selama lima belas tahun.

***
Jalan hidupku seperti sudah diramalkan mulai dari tragedi pembantaian kali Angke berabad-abad yang lalu pada jaman penjajahan Belanda. Leluhurku tiba di negeri ini dengan jalan hidup sebagai pedagang. Darah nadiku adalah pedagang. Namun sepertinya, darah Tionghoa yang mengalir di tubuh ini harus selalu tercabik-cabik di manapun dan kapan pun kami berada.
Sebagai etnis Tionghoa, pada jamannya, leluhurku hidup dalam aturan yang ketat dan tidak adil, dari masalah ijin tinggal yang diberlakukan oleh penguasa Belanda, pengusiran-pengusiran, hingga pemberlakuan pajak yang tinggi bagi yang ingin hidup lebih lama lagi, apalagi ketika tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membludaknya gula Malabar, akibatnya pabrik-pabrik gula bangkrut, sehingga banyak warga Tionghoa yang menjadi penganggur dan gelandangan. 
Kerusuhan yang terjadi untuk menentang aturan yang ketat dan penguasa telah melahirkan pembantaian besar-besaran. Rumah dan toko leluhurku yang berada di sekitar kerusuhan digeledah dan dibakar. Sisanya Tionghoa yang selamat dari kerusuhan diburu dan dibunuh tanpa perduli apakah terlibat atau tidak dalam peristiwa pemberontakan tersebut. Ini adalah noda paling hitam dalam sejarah leluhurku.
Dan aku dikutuk oleh jaman. Pembantaian itu hadir lagi. Perempuan Tionghoa dilecehkan, diperkosa, dihina, dicabik-cabik, dibakar, dipenggal. Sepertinya kematian kami bukan tujuan akhir para pembantai itu. Mati hanya membuat kami lebih mudah merasakan siksa. Tersiksa. Sakit. Dendam. Itu  yang mereka wariskan.
Penjarahan itu dimulai saat matahari menutup diri. Lampu gedung di mana toko kami berada padam. Kami bertanya-tanya atas apa yang terjadi. Demonstrasi besar-besaran baru saja terjadi siang tadi, begitu kata berita televisi. Tiba-tiba seketika itu juga terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh gedung, dan terjadilah pemandangan yang paling memilukan di sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, pengulangan sejarah yang sempurna setelah berabad-abad terkunci rapat-rapat. Pembantaian dan perampokan di segala sudut kota memakan korbannya. Gedung utama hangus, gosong, hitam jelaga, hitam sempurna. Jeritan anak-anak dan para perempuan membahana sepanjang lorong-lorong sempit bagian bawah gedung ini.
Toko kami hanya tiga ratus meter dari lorong terakhir. Gelapnya gedung membuat semua orang yang ada di lorong itu tidak menyadari bahwa bahaya keluar dari lorong yang kami sebut tusuk sate. Laki-laki. Kekar. Hitam-hitam. Tinggi besar. Menyeret para perempuan yang ketakutan. Aku merasakan sebuah tangan menarik bajuku kuat-kuat, membawaku bersama-sama tangan yang lain. Aku masih mendengar Mami dan Papi berteriak memanggil nama anak-anaknya. Aku masih merasakan jemari tangan adikku menahan badanku pergi. Aku masih berteriak memanggil kakakku yang berada di lantai atas.
Kemudian gelap.
Tak berbekas.
Bagai jelaga hitam yang bernanah.
Hitam. Pekat. Lekat.
Lalu mengapa harus kami? Karena kami, etnis Tionghoa adalah korban paling lemah dan mudah dituju? Karena kami, perempuan yang sangat mudah menjadi target untuk membangun sebuah teror dan ketakutan di masyarakat untuk mengintimidasi perempuan lain? Entah pada siapa pertanyaan itu bisa kusampaikan.
Hari masih temaram ketika aku berdiri mematung di depan rumahku. Lima belas tahun sudah cakrawala terlewati dan rumah ini masih sederhana. Pohon jambu putih masih berdiri tegak meski sudah mulai keriput dimakan jaman. Garasi masih tidak berkanopi. Pohon perdu mulai menelan lantai kerikilnya. Cat tembok mulai mengelupas tuntas. Pagar besi yang telah melintasi jaman, kuno, kaku meskipun unik. Tak ada rumah lain yang memiliki bentuk pagar seperti itu selain rumahku. Kursi tanah liat yang dibeli adikku di Jogja mulai mengikis liatnya.
Tapak-tapak merah darah yang menodai masa pembantaian itu selalu hadir dalam gelombang aliran darahku. Meski jaman mulai mengelupas dan menggulung cerita kelamnya, namun rasa sakit itu seperti abadi dalam jiwaku. Dendamku nyata meski tak bernyawa. Merah yang berarti kagembiraan, kali ini merupakan duka nestapa karena mengalirnya ribuan darah korban pembantaian. Masihkah ada temanku yang mengingat peristiwa itu? Aku tidak tahu.

***
Namaku Maya Liem. Tak perlu aku sebut nama Papi dan Mamiku karena mereka sudah mati diujung senapan para penjarah. Adikku, Meti Liem, mati gantung diri setelah diperkosa beramai-ramai pada tahun ketika negeri ini mengamuk membenci Tionghoa. Kakakku, Natali Liem, juga mati terbakar bersama toko kami. 
Namaku Maya Liem. Aku korban perkosaan laki-laki yang berjanji menikahiku. Laki-laki yang kupuja dan kupertahankan di depan martabat keluarga Tionghoaku. Ray, laki-laki yang terlahir tidak sebagai Tionghoa. Laki-laki yang sudah berjanji teguh di hadapan arwah leluhur untuk menjagaku selalu. Laki-laki yang akhirnya berkhianat pada hidupnya sendiri. Laki-laki yang membawa laki-laki lain untuk memperkosaku beramai-ramai.
Namaku Maya Lim. Korban perkosaan. Tinggal di Rumah Sakit Jiwa. Jika kalian mampir ke sana, sempatkanlah untuk menyapaku.

Bekasi, April 2013